MANUSIA
DAN KEINDAHAN
1. LATAR
BELAKANG
Manusia
pada dasarnya adalah makhluk yang menginginkan apapun yang disertai dengan keindahan,
dan sangat ingin mendapatkannya. Keindahan selalu berhubungan dengan kebenaran,
namun ada saatnya dimana keindahan tidak berhubungan dengan kebenaran. Keindahan juga bersifat universal, artinya tidak
terikat oleh selera perseorangan, waktu dan tempat, kedaerahan, selera mode,
kedaerahan atau lokal
2. Manusia
dan Keindahan
Manusia
sendiri berasal dari kata “manu” (Sansekerta), “mens” (Latin), yang berarti berpikir,
berakal budi atau makhluk yang mampu menguasai makhluk lain. Secara istilah
manusia dapat diartikan sebuah konsep atau sebuah fakta, sebuah gagasan atau
realitas, sebuah kelompok (genus) atau seorang
individu. Secara biologi, manusia diartikan sebagai sebuah spesies primata dari
golongan mamalia yang dilengkapi otak berkemampuan tinggi.
Sedangkan keindahan adalah bagian dari estetika, sosiologi, psikologi
sosial, dan budaya. Sebuah “kecantikan yang ideal” adalah sebuah entitas yang
dikagumi, atau memiliki fitur yang dikaitkan dengan keindahan dalam suatu
budaya tertentu, untuk kesempurnaannya.
Dalam bahasa Latin,
keindahan diterjemahkan dari kata “bellum” Akar katanya adalah “benum” yang
berarti kebaikan. Dalam bahasa Inggris diterjemahkan dengan kata “beautiful”, Prancis “beao” sedangkan Italy dan Spanyol ”beloo”. Kata benda Yunani klasik untuk “keindahan ” adalah
κάλλος, kallos, dan kata sifat
untuk “indah” itu καλός, kalos.
Kata bahasa Yunani Koine untuk indah itu ὡραῖος, hōraios, kata sifat etimologis berasal dari kata ὥρα, hora, yang berarti “jam.” Dalam bahasa Yunani Koine,
keindahan demikian dikaitkan dengan “berada di jam (waktu) yang sepatutnya”
Hubungan
antara manusia dan keindahan tersebut sendiri sudah berlangsung dari dahulu
kala, manusia yang mempunyai hasrat akan keidealan, ketepat waktuan, dan
keadaan yang pas dengan apa yang diinginkan menginterpretasikannya sebagai
keindahan yang kita ketahui pada saat ini
Biasanya
keindahan dapat disadari dengan 4 hal, yaitu:
1.
Renungan
berasal dari kata renunag, merenung artinya dengan diam-diam
memikirkan sesuatu, atau memikirkan sesuatu dengan dalam-dalam. Renungan adalah
hasil merenung. Setiap orang
pernah merenung. Sudah tentu kadar renungannya satu sarna lain berbeda,
meskipun obyek yang direnungkan sama, lebih pula apabila obyek renungannya
berbeda. Jadi apa yang direnungkan itu bergantung kepada obyek dan subyek.
2.
Keserasian
Keserasian berasal dari kata serasi-serasi dari kata dasar
rasi artinya cocok, sesuai, atau kena benar. Kata cocok sesuai atau kena
mengandung unsur pengertian perpaduan, ukuran dan seimbang.
Keserasian identik dengan keindahan. Sesuatu
yang serasi tentu tampak indah dan yang tidak serasi tidak indah. Karena itu
sebagian ahli pikir berpendapat, bahwa keindahan ialah sejumlah kualita pokok
tertentu yang terdapat pada suatuhal.
3.Kehalusan
Kehalusan berasal dari kata halus artinya tidak kasar
(perbuatan) lembut, sopan, baik (budi bahasa), beradab. Kehalusan berarti
sifat-sifat yang halus. Halus
itu berarti suatu sikap manusia dalam pergaulan baik dalam masyarakat kecil
maupun dalam masyarakat luas. Sudah tentu sebagai lawannya ialah sikap kasar
atau sikap orang-orang yang sedang emosi, bersikap sombong, bersikap kaku sikap
orang yang sedang bermusuhan. Oleh karena itu kehalusan dapat menunjukan nilai
keindahan seseorang dan sikap kasar bisa mengurangi nilai keindahan dari
seseorang.
4.
Kontemplasi
Suatu proses
bermeditasi, merenungkan atau berpikir penuh dan mendalam mencari nilai-nilai makna, manfaat, dan
tujuan, atau niat hasil penciptaan.
Dari pembahasan diatas dapat diambil kesimpulan bahwa,
Keindahan merupakan sesuatu yang dicari dan diidamkan setiap manusia. Keindahan
sendiri dapat diartikan dalam banyak hal, namun, secara garis besar adalah
keadaan yang tepat pada waktu yang tepat pula. Keindahan tersebut merupakan hal
yang sehari – hari kita lewati tapi, kadang kita tidak tersadarkan akan
keindahan tersebut. Keindahan dapat dirasakan dengan 4 cara, yaitu : Renungan,
Keserasian, Kehalusan, dan Kontemplasi
No comments:
Post a Comment